Sep 27

Sabtu, 27 September 2008 - 13:41 wib
Sarie - Okezone

JAKARTA - Hasil Drive Test, yang dilakukan Rabu (23/9) lalu oleh para regulator dan operator, membuahkan kesimpulan masih minimnya kesadaran operator dalam menyediakan cadangan pasokan listrik pendukung infrastrukturnya.

“Secara keseluruhan jaringan yang tersedia cukup memadai untuk menyelenggarakan layanan telekomunikasi, baik voice maupun SMS. Namun begitu kami mengimbau para operator untuk tetap berjaga-jaga, dengan status high alert, karena bagaimanapun juga ujian ‘real’ nya akan terjadi pada hari H lebaran nanti,” ujar Kepala Umum dan Humas Ditjen Postel Gatot S Dewabroto, yang juga ikut dalam rombongan drive test dengan rute Yogyakarta, dalam percakapan melalui telepon, di Jakarta, Sabtu (27/9/2008).

Dalam drive test tersebut, lanjut Gatot, ditemukenali bahwa beberapa operator masih memiliki kendala pada pasokan listrik, baik untuk BTS/RBS/Node-B, BSC dan MSC. Kebanyakan dari mereka dianggap kurang menyediakan cadangan pasokan listrik, khususnya untuk infrastruktur di wilayah rawan bencana.

“Meskipun bencana yang ditimbulkan tidak sampai merusakkan infrastruktur telekomunikasi namun sudah pasti akan mengganggu aliran listrik yang ada. Operator hingga saat ini sangat bergantung pada PLN, padahal seperti di wilayah Sumatera, yang pasokannya listriknya byar pet, akan berakibat fatal pada pelayanan. Oleh karena itu, sebaiknya operator mengadakan antisipasi cadangan jaringan listrik, contohnya penyediaan generator dan cadangan bahan bakarnya,” papar Gatot.

Selain itu, lanjut Gatot, dengan tardisi mudik maka akan terjadi perubahan pola trafik originasi (pengiriman) dari kota besar ke kota kecil. Hal ini akan mengakibatkan konsentrasi trafik padat pun akan berpindah dari kota besar ke desa. Belum lagi, tingkat dan titik kemacetan sangat berpotensi membuat kualitas pelayanan terganggu, seperti di jalan tol Jakarta-Cikampek, Nagrek, Merak dan Indramayu.

Namun begitu, Gatot mengatakan bahwa hasil drive tes tersebut tidak akan menetapkan operator, sesuai dengan tingkat kesiapan jaringannya, dalam bentuk daftar.

“Kami tidak mengeluarkan daftar operator mana yang paling siap. Karena nantinya akan menjadi bumerang buat kami, nanti disangkanya kami mempromosikan operator tertentu,” tandas Gatot.

Sebelumnya, regulator mengadakan langkah untuk menguji sinyal jaringan milik operator dengan tiga tujuan terpisah seperti Jakarta - Pelabuhan Merak, Jakarta - Cikampek - Cirebon dan Jakarta - Bandung - Nagrek - Garut.

Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) menganggap langkah ini harus dilakukan terkait dengan kualitas layanan agar tidak memburuk dan dapat menyebabkan terganggunya kesinambungan industri telekomunikasi. Bahkan, pengecekan kesiapan jaringan milik operator ini harus dilakukan menjelang Lebaran. Berdasarkan pengalaman dari tahun ke tahun, setiap Lebaran, trafik komunikasi selalu menunjukkan statistik yang meningkat. (srn)

Sumber:
Operator Kurang Antisipasi Cadangan Listrik

Popularity: 50% [?]

Sep 25
Kamis, 25 September 2008 | 07:25 WIB
JAKARTA, KAMIS - Bank Indonesia mengimbau agar perbankan tidak melakukan perang bunga dan tidak lagi menaikkan suku bunga simpanannya. Perbankan dapat mengurangi kebutuhan likuiditasnya dengan mengerem kredit konsumsi.

Imbauan tersebut disampaikan Bank Indonesia (BI) saat bertemu dengan para pemimpin bank, Rabu (24/9) di Jakarta. Pertemuan itu bagian dari serangkaian langkah bank sentral yang dilakukan dalam dua pekan terakhir untuk mengatasi dampak negatif dari minimnya likuiditas di pasar. Langkah lainnya, menurunkan suku bunga dan memperpanjang tenor transaksi gadai (repurchase agreement/repo).

Direkur Utama Bukopin Glen Glenardi menyatakan mendukung imbauan BI yang bertujuan menghentikan lonjakan suku bunga simpanan yang sangat tajam belakangan ini. ”Lonjakan suku bunga simpanan yang terlalu tajam pasti akan memicu kenaikan suku bunga kredit. Jika suku bunga kredit naik, kredit bermasalah berpotensi naik sehingga membahayakan bank,” kata Glen.

Dalam sebulan terakhir, terjadi kondisi likuiditas yang amat ketat di pasar keuangan. Berbagai faktor menjadi penyebabnya, antara lain penyaluran kredit yang amat cepat, penumpukan dana pemerintah di BI, dan pembalikan dana asing ke luar negeri.

Bank-bank yang kesulitan likuiditas lalu menaikkan suku bunga deposito berjangka tidak resmi (over the counter) hingga 13 persen untuk menarik dana masyarakat. Bank-bank yang tidak kesulitan likuiditas ikut menaikkan suku bunga agar nasabahnya tidak pindah.

Dampaknya, kenaikan suku bunga simpanan jauh melebihi batas proporsionalnya, atau tidak lagi seiring dengan kenaikan BI Rate. Dalam periode Mei-September 2008, BI Rate naik 125 basis poin (bp), tetapi suku bunga deposito sudah naik mendekati 500 bp.

Gubernur BI Boediono mengatakan, dalam pertemuan dengan para bankir, BI juga meminta bank mengurangi kesenjangan antara laju kredit dan dana. Bank diminta mengerem laju kredit, terutama di segmen konsumsi. Pengereman laju kredit diharapkan bisa mengurangi kebutuhan likuiditas sehingga bank tidak bersaing menaikkan suku bunga simpanan.
FAJ
Sumber : Kompas Cetak

BI Imbau Bank Tak Lagi Naikkan Bunga Simpanan

Popularity: 51% [?]

Sep 25

Hanya karena kita merasa dizhalimi, bukan berarti kita lalu boleh menzhalimi orang lain. Hanya karena kita merasa ditindas, bukan berarti kita boleh melakukan hal yang sama (menindas) kepada orang lain.

Seringkali karena kita merasa sebagai orang kecil yang dizhalimi oleh orang lain, oleh institusi, oleh korporasi, oleh pemerintah kemudian kita merasa berhak untuk merampas, berhak untuk merusak, berhak untuk menghakimi dan melakukan kerusakan yang lebih besar.

Seringkali juga, hanya karena orang lain berbuat zhalim dan tidak dihukum, kita menganggap bahwa berbuat zhalim itu boleh dan dibenarkan. Hanya karena orang lain melanggar hukum, kita merasa berhak untuk melanggar hukum pula.

Siapakah kita, kok kita merasa punya legitimasi untuk menzhalimi orang lain? Walau bagaimanapun berbuat kerusakan dan menzhalimi orang lain itu salah. TITIK!

Mungkin karena itu kita dibiarkan Tuhan terus menjadi orang kecil, jadi orang tertindas, jadi mustadh’afin. Jadi orang kecil saja sudah berbuat zhalim, apalagi kalau jadi orang besar? Jadi orang miskin saja sudah berbuat zhalim, apalagi jadi orang kaya? Jadi rakyat biasa saja sudah merusak, apalagi jadi penguasa.

Jika kita merasa dizhalimi oleh orang lain, oleh korporasi, oleh pemerintah, lawanlah dengan cara yang lebih baik.

Popularity: 52% [?]

Sep 19

Untuk mengetahui secara pasti, apakah Anda setuju dengan sistem regionalisasi MKIOS yang diberlakukan oleh Telkomsel, kami telah membuat polling terbuka di forum. Hasilnya, akan kami tunjukkan kepada para eksekutif Telkomsel yang terkait dengan masalah ini.

Untuk berpartisipasi, silakan klik di sini: Regionalisasi MKIOS

Popularity: 63% [?]