Apr 11

Setelah menunggu Hampir dua minggu sejak tarif interkoneksi yang baru diberlakukan pada 1 April 2008, akhirnya Indosat mengumumkan tarif barunya.

Berikut kutipannya:

Tarif dasar layanan prabayar Mentari secara umum mengalami penurunan antara 6,7 persen sampai 45,3 persen. Untuk percakapan jarak jauh ke selular operator lain dari Rp1600/30 detik menjadi Rp875/30 detik. Percakapan lokal Mentari ke tujuan PSTN turun dari Rp450/30 detik menjadi Rp400/30 detik dan percakapan jarak jauh ke PSTN turun dari Rp1600/30 detik menjadi Rp875/30 detik. Khusus tarif SMS Mentari ke sesama pelanggan Indosat turun dari Rp350 menjadi Rp99, ke selular operator lain turun dari Rp350 menjadi Rp149.

Sementara untuk tarif dasar layanan prabayar IM3, mengalami penurunan antara 3,1 persen hingga 71,4 persen. Di samping penurunan tarif, juga dilakukan perubahan pemotongan tarif dari per 30 detik menjadi per detik. Penurunan cukup signifikan terjadi pada percakapan jarak jauh ke selular operator lain dari Rp2000/30 detik (Rp66,7/detik) menjadi Rp25/detik. Untuk percakapan jarak jauh ke PSTN turun dari Rp1750/30 detik (Rp58,3/detik) menjadi Rp25/detik. Khusus tarif SMS IM3, Indosat menurunkan cukup signifikan, dimana untuk ke sesama Indosat turun dari Rp150 menjadi Rp100, ke operator lain dari Rp350 menjadi Rp100.

Bagaimana untuk produk Matrix (paskabayar) dan StarOne?

Khusus untuk tarif dasar layanan paskabayar Matrix, turun antara 1,7 persen hingga 72,8 persen. Percakapan lokal ke selular operator lain turun dari Rp258 hingga Rp313/20 detik menjadi Rp185/15 detik, sementara percakapan jarak jauh ke seluler operator lain turun dari Rp244 sampai Rp771/15 detik menjadi hanya Rp300/15 detik. Untuk percakapan jarak jauh ke PSTN tertinggi turun dari Rp669/15 detik menjadi Rp300/15 detik. Untuk tarif SMS ke sesama Indosat turun dari Rp300 menjadi Rp100 dan ke operator lain Rp300 menjadi Rp150.

Sedangkan untuk layanan StarOne, tarif baru sudah tidak mengenal tarif off peak (tidak sibuk) dan peak (sibuk), rata-rata turun antara 3,8 persen hingga 71,4 persen. Khusus SMS StarOne prabayar ke sesama Indosat turun dari Rp350 menjadi Rp100, dan ke operator lain turun dari Rp350 menjadi Rp150. Tarif SMS StarOne paskabayar ke sesama Indosat turun dari Rp225 menjadi Rp100 dan ke operator lain turun dari Rp225 menjadi Rp150.

Sumber:
Akhirnya! Indosat Umumkan Tarif Dasar Baru

Technorati Tags: , , , ,

Apr 01

EMRs Mobile Forecast on Indonesia provides over 65 operational and financial metrics for the Indonesia wireless market. We cover quarterly historical data starting in 3Q2003 and ending in 3Q2007. We also provide four-year forecasts at the operator level going out to 2010.

Operators covered for Indonesia include: Telkomsel, Satelindo + IM3, Excelcomindo, Telkom Flexi, StarOne, and Other new entrants. Our Mobile Forecasts are updated quarterly and are available for one-time delivery
or through regular updates.

Notable highlights of the 1Q08 Indonesia Mobile Forecast include:

  • Indonesia continues to be the most profitable market in East Asia. We are continuing to forecast average EBITDA margins in Indonesia at 64% in 2010. Telkomsel, in particular, will continue to be one of the most profitable wireless operators in the world with an EBITDA margin of 68%.
  • The wireless penetration level in Indonesia is steadily increasing. It will increase from 41.3% in 2007 to 62.7% in 2010. The number of total subscribers will increase from 92.8 million to 146.5 million from 2007 - 2010.
  • Although the total subscriber base will continue to grow, Telkomsel, the largest operator in the country, will be losing its market share to competitors. We are forecasting that the market
    share (by subscribers) of Telkomsel will decrease from our projected 52.4% in 2007 to 47.5% in 2010.

Source:
1Q08 Mobile Forecast: Indonesia, 2007 - 2010

Mar 15

Perang tarif seluler makin gila-gilaan. Operator-operator besar seperti Telkomsel, Indosat (GSM) dan XL berlomba-lomba menurunkan tarif baik untuk percakapan telepon maupun sms. Skema yang ditawarkan pun aneka ragam, mulai tarif per detik dan sekarang sampai puas. Namun punya satu kesamaan, sama sama bilang: “gue juga bisa kasih lebih murah”.

Lalu apa reaksi konsumen? Apakah langsung pindah nomor/pindah operator ke operator lain?
Continue reading »

Mar 03

Mobile-8 Telekom, salah satu operator selular berbasis CDMA di Indonesia mencatat peningkatan jumlah pelanggannya (subscriber) sebesar 65% pada akhir 2007. Naik dari tahun sebelumnya sebesar 1,8 juta pelanggan.

Artinya, Mobile-8 hampir meraih pangsa pasar sebesar 3% (dari total 91 juta) di Indonesia. Dengan market share tersebut, Mobile-8 Telekom belum bergeser dari posisinya sebagai operator selular terbesar ke-4 di Indonesia.

Dengan lebih dari 3 juta pelanggan, Mobile-8 Telekom mampu meraih 281,2 triliun rupiah (USD 30,7 juta) atau naik hingga 81% selama 9 bulan pertama tahun 2007. Mobile-8 masih melanjutkan program ekspansinya dengan menanamkan USD 140 juta di tahun 2008, lebih dari dua kali lipat pada tahun lalu. Investasi tersebut digunakan untuk membangun base station di luar Jawa.

Faktor jangkauan (coverage) merupakan kunci dari peningkatan tersebut. Hal ini dibuktikan dengan bertambahnya base station dari 400 ke 1000 pada tahun 2007, sehingga Mobile-8 dapat beroperasi dan merebut pasar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Bali.

Sumber-sumber:
Indonesian CDMA Operator Passes 3 Million Subscriber Mark
Mobile-8: 2007 revenues nearly doubled, subscribers up 65%
Mobile-8 announces near double revenue, expansion

Technorati Tags: ,

Mar 01

Natrindo Telepon Seluler (NTS) dan Batam Bintan Telekomunikasi (BBT) belum menyerahkan tanggapan Daftar Penawaran Interkoneksi (DPI) dari tiga operator besar yaitu Telkom, Telkomsel dan Indosat. Tenggat waktu penyerahan adalah 27 Februari 2008.

Daftar Penawaran Intekoneksi adalah mekanisme yang ditetapkan dalam Peraturan Menkominfo No.8/PER/M.Kominfo/2/2006 yang menyebutkan di antaranya bahwa DPI milik penyelenggara jaringan telekomunikasi dengan pendapata usaha 25 persen atau lebih dari total pendapatan usaha seluruh penyelenggara telekomunikasi dalam segmentasi layanannya, wajib mendapatkan persetujuan BRTI melalui masukan publik.

Kami kutip dari Okezone,

Setelah penyerahan DPI, para operator kecil seperti XL, Bakrie, Smart, Natrindo Telepon Seluler (NTS), Sampoerna, Hutchison, Batam Bintan Telekomunikasi (BBT), Mobile-8 dan PSN, diminta untuk menanggapi DPI ketiga operator di atas.

Tanggapan penulis:
Tulisan tersebut terdengar sedikit aneh mengingat market share XL hampir sama dengan Indosat di pasar telepon selular (data ATSI 2006) namun disebut sebagai salah satu operator kecil.

Sumber:
Ditjen Postel Minta Operator Tanggapi DPI
Pengumuman Tarif Interkoneksi Mundur

Feb 29

JAKARTA,KAMIS - Perang tarif antar operator selular seperti yang terjadi sekarang ini dapat membahayakan kelanggenan perusahaan operator yang bersangkutan. “Bagus untuk jangka pendek bagi perusahaan itu, namun untuk jangka panjang perusahaan akan menderita,” ujar Chairman Frontier Consulting Group, Handi Irawan D, di Jakarta, Kamis (28/2).

Bermunculannya para pemain baru di industri seluler Indonesia, menimbulkan persaingan ketat diantara para pemainnya. Ketatnya persaingan membuat beberapa operator lebih memilih menggunakan harga sebagai senjata utama untuk merebut pelanggan. “Mereka sadar bahwa dalam hal kualitas produk dan pelayanan, realtif masih tertinggal. Bila kemudian para pesaing lain juga ikut melakukan penurunan harga, maka perusahaan terjebak dalam perang harga,” sebut Handi.

Peningkatan pelanggan dengan penurunan harga ini, lanjut Handi, bisa menjadi bumerang bagi perusahaan, karena bukan hanya perang harga yang terjadi tetapi tingkat keuntungan perusahaan juga akan memburuk. “Pelanggan yang direbut karena harga adalah pelanggan yang mudah berpindah juga, karena mereka pelanggan yang sensitif harga,” katanya.

Pada akhirnya, menurut Handi, karena tidak punya keuntungan yang memadai, perusahaan akan kesulitan mengembangkan kualitas jaringan, fasilitas ataupun pelayanan tambahan lainnya.

Cara bersaing yang sehat, menurut Handi, adalah dengan terus meningkatkan kualitas produk, kualitas pelayanan maupun sektor emosional pelanggan.

EDJ
Sumber: Kompas - Perang Tarif, Bahayakan Perusahaan

Jan 01

Jakarta - Iming-iming tarif murah nampaknya sudah tak cukup lagi untuk dijadikan senjata andalan bagi para operator seluler dalam menghadapi persaingan di 2008. Kualitas layanan pun digadang-gadang jadi amunisi baru.

Setidaknya demikian pernyataan yang dilontarkan para petinggi utama operator seluler di Indonesia, mencermati gambaran persaingan telekomunikasi bergerak yang akan semakin keras dan ketat.

Direktur Utama Telkomsel, Kiskenda Suriahardja mengatakan, kerasnya persaingan bukan semata-mata soal tarif saja, namun ke depan akan lebih berbicara dari sisi layanan.

“Karena, tarif sudah tidak ada batasannya lagi. Semua sudah menawarkan tarif yang relatif sama, jadi selling point-nya ada pada layanan seperti coverage, kualitas jaringan, ragam inovasi fitur yang melekat pada produk, dan pelayanan pelanggan,” ujarnya.

“Apalagi masyarakat sudah semakin kritis melihat value layanannya, tidak sekedar tarif yang ditawarkan,” imbuhnya ketika bincang-bincang santai dengan detikINET dan beberapa media lainnya di Kupang, baru-baru ini.

Hal senada juga diungkapkan Direktur Utama Indosat, Johnny Swandi Sjam. Menurutnya, 2008 akan menjadi tahun yang lebih kompetitif lagi bagi para operator seluler mengingat akan diluncurkannya beberapa regulasi tentang kualitas layanan (Quality of Services/QoS) dan aturan baru untuk tarif seluler.

“Tahun 2008 telah kami canangkan sebagai tahun kualitas dan pelayanan, sebagai wujud komitmen kami untuk memberikan layanan terbaik bagi kepuasan pelanggan,” ujarnya di kesempatan berbeda.

Sementara, Presiden Direktur Excelcomindo Pratama (XL) Hasnul Suhaimi, mengatakan, meski tren seluler di 2008 akan lebih menitikberatkan pada kualitas layanan, namun tarif murah masih akan menjadi penawaran yang menarik bagi pelanggan.

“Saya kira di 2008 akan balance antara tarif dan kualitas layanan. Prinsipnya value for money, yang artinya, setiap pelanggan harus mendapatkan layanan yang terbaik dari setiap nilai uang yang dibelanjakannya,” tandas Hasnul.
( rou / dbu )

Sumber:
detikinet - Kualitas Layanan, Amunisi Persaingan Seluler di 2008

Technorati Tags: