Aug 09

MALANG – Pelaku bisnis pulsa elektrik produk dua operator seluler besar Telkomsel dan XL kini tak bisa meraup keuntungan besar. Ini karena kebijakan dua operator seluler besar tersebut yang membatasi wilayah penjualan pulsa elektrik.

Telkomsel menerapkan kebijakan outer, dan XL dengan kebijakan wilayah. Inti kedua kebijakan itu sama, yakni pembatasan penjualan pulsa, terutama ke luar wilayah di tingkatan diler. “Wah, keuntungannya sudah tidak menjanjikan lagi, tidak seperti dulu. Sejak diterapkan penurunannya sampai 70 persen. Angka seperti itu sangat berpengaruh sekali,” ungkap Ahmad Hadi, salah satu diler operator Telkomsel.

Dia mengatakan, kebijakan outer membuat diler tidak bisa lagi leluasa “membuang” barang ke luar. Padahal, rata-rata para diler memiliki jaringan pasar di luar Jawa. Terlebih, para diler pulsa di luar Jawa ini justru sangat menjanjikan. “Bagi kami kebijakan tersebut, jelas sangat merugikan dari segi bisnis,” ungkapnya.

Omzet penjualan turun drastis. Jika dulunya, dia bisa melayani pasar seperti Lampung bahkan sampai ke Papua. Namun, sekarang barang tersebut hanya bisa dijual di wilayah Jatim saja. Padahal, daya serap pasar luar Jawa jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pasar di wilayahnya.

Mekanisme penjualan pulsa, kata Ahmad, dari operator kemudian ke diler, sub diler, outlet, baru sampai ke user. “Kami khawatir juga, kebijakan ini akan menimbulkan pelaku nakal. Pemodal besar khususnya, mereka bisa saja membeli sebanyak mungkin, tapi tidak langsung dilepas ke pasar. Dengan begitu, bukan tidak mungkin harga barang (pulsa akan melonjak),” ujarnya.

Pembatasan penjualan pulsa elektrik, tambah diler operator XL Andika, malah lebih sempit lagi. Operator menerapkan pembatasan wilayah. Di Malang misalnya, terbagi tiga wilayah, yakni A, B, dan C. Setiap diler wilayah hanya diperbolehkan memenuhi kebutuhan wilayahnya saja. Di luar wilayah tidak bisa.

“Penerapan kebijakan ini yang paling merasakan adalah diler yang memiliki pasar di luar Jawa. Kalau seperti saya ini tak begitu terasa, karena saya hanya mengembangkan pasar wilayah saja,” ujarnya.

Chandra, salah satu diler Telkomsel mengatakan daya beli para pelaku bisnis luar Jawa mendapatkan pulsa elektrik ke Jawa diakui tinggi. Sebab, harga kulakan jauh lebih miring dibanding mendapat barang di wilayah sendiri. Pulsa senilai Rp 100 ribu di tingkat diler Jawa dijual seharga Rp 93 ribu, tapi bisa dijual ke sub diler sampai Rp 97 ribu. Padahal, maksimal harga ke sub diler di Jawa maksimal Rp 95 ribu. (hap/lia)

Sumber: Radar Malang

Popularity: 61% [?]

Aug 08

Web report Indosat SEV tidak menampilkan data mulai tanggal 1 Agustus 2008. Apakah ini karena bug?

Popularity: 69% [?]

Aug 01

Jumlah pelanggan meningkat, tapi pendapatan menurun. Kalau melihat kasus ini dan perkembangan kasus validasi kartu prabayar sampai sekarang, saya jadi bertanya-tanya: Bagaimana sebenarnya posisi pasar sekarang, siapa market leader? Apakah operator tidak tahu perilaku konsumen kita suka gonta-ganti nomor? Dan ketika pangsa pasarnya turun dan pendapatan turun, karena tarif interkoneksi yang turun?

Atau ada sebab lain?

Continue reading »

Popularity: 65% [?]

Jul 24

Hasil Pertemuan Hot Issue Cross Region di Bandung pada 21 Juli 2008 yang lalu, salah satu poinnya adalah:

Telkomsel belum dapat memfilter by sistem, sehingga cross region inner masih akan diperhitungkan sebagai cross region, hanya saja Telkomsel menyatakan cross region inner pasti masih dalam batas toleransi cross region yg diberikan dealer. Sebagai contoh cross region inner di Jabar angkanya hanya sekitar 3%.

Jika Telkomsel sendiri tidak bisa memfilternya, lalu mengapa aturan regionalisasi itu dibuat dan apa tujuan sebenarnya?

Popularity: 80% [?]

Jul 24

Berikut adalah foto-foto yang diambil pada pertemuan di Bandung, Senin 21 Juli 2008.

Berpose sebelum Acara dimulai

Berpose sebelum Acara dimulai

Dealer Agrabudi + Suryalaya

Dealer Agrabudi + Suryalaya

Ibu Nuke Telkomsel

Ibu Nuke Telkomsel

Kang Daniel GM Jabar Telkomsel

Kang Daniel GM Jabar Telkomsel

Popularity: 57% [?]

Jul 23

Berikut adalah cuplikan iklan di Harian Pikiran Rakyat 19 Juli 2008 yang menolak pengisian nomor Telkomsel luar regional.

“Sesuai dengan aturan TELKOMSEL, kami tidak menerima pengisian nomor Telkomsel di luar regional. Info: Hub 116″

Versi lengkapnya di sini.

Popularity: 43% [?]

Jul 20

Pedagang Pulsa Geruduk Graha XL Jogja untuk meminta penjelasan dari pihak XL terhadap kebijakan barunya.

Para pedagang itu meminta penjelasan dari pihak XL terhadap kebijakan terbaru yang diambil. Koordinator Komunitas Pedagang Pulsa (KPP) DIJ Yohanes Adi Santoso mengungkapkan bila perubahan sistem dan distribusi yang diberlakukan tidak memberikan manfaat positif.

Popularity: 36% [?]

Jul 11

Jika masih ada yang percaya dengan penawaran stock unlimited, terutama Telkomsel (MKIOS, Autorefill) sebaiknya baca dulu artikel Unlimited Stock, Antara Ilusi dan Realita.

Jadi, siapa yang punya stock unlimited?

Popularity: 42% [?]

Jul 09

Dalam satu bulan terakhir ini, saya mengamati persoalan seputar regionalisasi MKIOS dan berdiskusi dengan beberapa pihak. Berikut beberapa poin yang saya tangkap seputar regionalisasi MKIOS. Dua poin dulu, yang lain menyusul.

Disinformasi

Banyak sekali rumor, gosip-gosip, atau berita yang beredar di kalangan pedagang. Namun tidak satupun dari mereka yang memiliki bukti yang sahih, apakah itu dalam bentuk surat edaran resmi atau pemberitahuan lainnya dari Telkomsel. Disinformasi ini menjadi celah untuk spekulan, menciptakan suasana panik, dan memperburuk ketidakpastian. Disinformasi hanya menguntungkan para spekulan.

Sistem Tidak Fair

Saat ini baik transaksi lintas maupun bukan, sama-sama sukses dan pulsa masuk ke pelanggan. Bukan digagalkan oleh sistem. Artinya, penilaian diberikan berdasarkan faktor kualitatif, bukan kuantitatif. Ini namanya standar ganda, saldo pedagang diambil sekaligus “ditilang”, namun tidak ada “pembatasnya”.

Semestinya, pembatasan regional dilakukan oleh sistem MKIOS. Jika sebuah transaksi dianggap lintas regional, langsung ditolak/dibatalkan, pulsa tidak masuk ke konsumen. Jadi sama-sama fair.

Dengan sistem yang fair, kasus ketidakstabilan harga akibat stok yang menyeberang ke area lain pun terjawab. Secara tidak langsung, pedagang yang suka banting harga karena kesenjangan yang lebar di daerah lain harus menghentikan aksinya.

Sementara itu dulu, silakan ditanggapi oleh rekan-rekan. Pikir pelan-pelan, pikir yang tenang ya. :)

Technorati Tags: ,

Popularity: 49% [?]

May 13

MAKASSAR, Upeks– Menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Telkomsel yang ke-13, manajemen PT Telkomsel merilis simPATI PeDe 13 sebagai kado komunikasi lebih murah berupa tarif Rp0,5 per detik setelah detik ke-13 hingga menit ke-13 ke sesama pelanggan Telkomsel.

Demikian dikatakan Vice President Telkomsel Area Pamasuka, Gideon Edie Purnomo, didampingi General Manager SCS Regional Sulmalirja, M Hasbi Hasibuan, Manager Marketing Area Pamasuka, Ketut Eri BS, dan Manager Channel Management Area Pamasuka, Andi Triwidarto, saat menggelar jumpa pers, Jumat (9/5) di MaRI.

Lebih jauh dijelaskan, pukul 00.00-06.00 waktu setempat untuk 13 detik pertama dikenakan tarif Rp25 per detik atau sebesar Rp325, selain itu, komunikasi murah kesesama pelanggan Telkomsel juga berlaku pada pukul 06.00-18.00 berupa Rp0,5 setelah 60 detik pertama hingga menit ke-13. Sedangkan pukul 18.00 hingga pukul 24.00 berlaku tarif Rp0,5 setelah 90 detik pertama hingga menit ke-13, dimana setiap detik pertama dikenakan biaya sebesar Rp25.

“Untuk menikmati tarif hemat kado HUT Telkomsel ke-13 ini, pelanggan cukup mengubah pilihan tarifnya dengan menekan menu perpindahan tarif *880# langsung diponsel masing-masing, selanjutnya pilih menu tarif PeDe 13 dari tiga menu pilihan yang ada,” ungkapnya.

Sekadar diketahui, setiap perpindahan tarif kini tidak diberlakukan biaya tambahan atau gratis hingga akhir Mei mendatang. (Hasrul)

Sumber: Telkomsel Rilis simPATI PeDe 13

Popularity: 48% [?]